Pendakian Gunung Ile Ape, Buat Jalur Sendiri
Share this:

Liburan ke Lembata selalu saja ada kisah-kisah unik dan mengesankan. Salah satunya pengalaman mendaki gunung Ile Ape dengan membuat jalur sendiri.

Pengalaman itu bermula ketika saya berkunjung ke sebuah desa di pelosok pulau Lomblen. Desa Lamawara namanya. Desa tersebut berada persis di salah satu pesisir pantai, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Setelah seminggu berada di desa Lamawara, seorang pemuda akamsi bernama Atis mengajak saya untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Ile Ape. Karena saya belum pernah mendaki di pulau Lomblen, saya langsung mengiyakan ajakannya.

Gunung Ile Ape sendiri merupakan sebuah gunung api aktif yang memiliki ketinggian kurang lebih 1423 mdpl. Gunung ini begitu terkenal dengan kawahnya yang sangat luas.

Selain dikenal sebagai gunung Ile Ape, gunung ini juga biasa disebut gunung Ile Lewotolok. Ile Ape merupakan bahasa Lamaholot yang berarti gunung api.

Persiapan Pendakian Gunung Ile Ape

Sehabis berbincang dengan Atis, saya segera menyiapkan segala kebutuhan pendakian. Mulai dari sepatu, tas carier, headlamp, hingga logistik.

Kami pun berkumpul di rumah Atis saat menjelang magrib. Di sana, saya diam-diam mulai perhatikan apa saja yang mereka bawa. Ya, saya agak sedikit kepo dengan perlengkapan apa saja yang biasa mereka pakai di sini.

Satu hal yang membuat saya agak heran adalah perlengkapan mereka benar-benar berbeda dengan pendaki pada umumnya. Jika kamu biasanya mendaki dengan segala perlengkapan lengkap, mereka di sini hanya ala kadarnya saja.

Baca juga: 11 Perlengkapan Pendakian

Bayangkan, apa yang mereka pakai sama sekali tak ada yang benar-benar khusus buat kegiatan mendaki. Mulai dari sepatu, tas, dan lain sebagainya hanyalah perlengkapan yang biasa mereka pakai sehari-hari ke sekolah.

Di samping itu, tenda pun tak ada. Yah mungkin karena gunungnya tidak begitu tinggi, sehingga pendaki bisa melakukan tektok.

Melihat perlengkapan mereka yang ala kadarnya, saya tidak mau berkomentar, karena bagi saya, mereka lebih berpengalaman dan mereka lebih tahu perihal sikon gunung Ile Ape.

Seperti Atis misalnya. Dia sudah belasan kali naik turun gunung Ile Ape. Tentu segala hal mengenai persiapan sudah dia pahami dengan matang berdasarkan pengalamannya selama ini.

Yang bikin saya lebih tercengang lagi adalah ketika ada beberapa orang memegang parang. Saya kemudian bertanya buat apa bawa parang banyak-banyak? Atis lalu menjawab, itu untuk buka jalur.

Apa, buka jalur? Men, ini pertama kali saya mendaki gunung dengan membuka jalur sendiri. Dalam hati saya, ini pasti bakal seru.

Pendakian Gunung Ile Ape

Pukul delapan malam, kami mulai bergerak meninggalkan rumah Atis. Kami melewati perkebunan milik warga menuju batas jalan semen.

Batas jalan semen tersebut berada tepat di kawasan rumah adat suku asli dari masyarakat desa Lamawara dan Bunga Muda. Setibanya di sana, saya sedikit merinding lantaran di sekitaran kami terdapat rumah-rumah adat yang begitu sakral dan sangat dihormati warga setempat.

Sesudah melewati kawasan rumah adat, jalan setapak sudah tak lagi tampak. Di depan mata, yang terlihat hanyalah semak-semak dan rumput ilalang yang tingginya sudah mencapai kepala. Bahkan ada yang lebih dari itu.

Di situ, kami mulai menukar posisi. Yang paling depan adalah Atis dan beberapa orang lainnya yang memegang parang.

Malam itu tak ada bulan. Hari terasa begitu gelap. Dengan bermodalkan headlamp yang saya bawa dan beberapa senter tangan sebagai penerang, Atis dan kawan-kawan mulai mengayunkan tangan menyapuratakan semak-semak yang berada di depan.

Bagi pendaki seperti saya, yang biasanya mendaki dengan jalur yang sudah disediakan, pendakian kali ini merupakan pendakian yang benar-benar cukup ekstrem. Namun, ini juga adalah pengalaman berharga untuk saya.

Sesekali kami dihampiri serangga-serangga yang cukup membuat panik, seperti kalajengking, kelabang, tarantula, dan sebagainya. Ini sih wajar saja, karena memang jalan yang kami lalui adalah tempat tinggal dari serangga-serangga tersebut.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Sebenarnya kami ingin kami beristirahat sejenak di sebuah batu besar. Akan tetapi, tempat seperti ini (bebatuan besar) pasti ada banyak penghuninya, jadi kami memilih untuk terus berjalan dan mencari tempat peristirahatan yang lebih aman.

Ebak Belen, Tempat Istirahat yang Recomended

Malam semakin larut, bulan masih tidak menampakkan diri. Suhu udara mulai terasa dingin. Tampaknya kami sudah berada pada zona yang cukup tinggi.

Kata Atis sedikit lagi kami akan tiba di sebuah kawasan yang luas dengan struktur permukaan tanah yang landai. Dan benar saja, pukul 03.57 kami tiba di tempat tersebut.

Orang-orang di sini menyebut tempat itu Ebak Belen. Ebak Belen memiliki arti dataran besar atau luas.

Ebak Belen sangat recomended sebagai tempat beristirahat. Selain landai, waktu tempuh dari Ebak Belen ke puncak juga tidak terlalu jauh, sekitar dua jam saja.

Kami pun memutuskan untuk beristirahat di situ. Beberapa orang terlihat tengah menyiapkan Api Unggun yang tidak terlalu besar untuk membakar pisang dan ubi-ubian, serta memasak air untuk menyeduh kopi.

Sembari menunggu, kami duduk melingkari api unggun demi menghangatkan badan. Tak lama kemudian, salah satu dari kami mengeluarkan sebotol arak dan digulirkan ke tiap-tiap orang. Benar-benar nikmat bro, minum arak dalam kondisi suhu udara yang cukup rendah.

Istirahat kami saat itu lumayan lama. Yah wajar saja, mendaki dengan buat jalur sendiri tentu sangat-sangat menghabiskan tenaga dan energi.

Menuju Puncak Gunung Ile Ape

Hari mulai pagi. Langit yang tadinya benar-benar gelap, kini sudah sedikit kebiruan-biruan. Kami kembali melangkahkan kaki menuju puncak.

Jalur menuju puncak sudah tidak begitu tertutup oleh semak-semak ilalang yang tinggi. Jadi, Atis dan kawan-kawan tidak lagi kewalahan untuk membuka jalur.

Selain tanah landai di Ebak Belen, ada juga tanah landai di Ebak Uweken. Letaknya sesudah Ebak Belen. Sesuai artinya, Ebak Uweken memiliki luas kawasan yang cukup kecil. Tidak seluas Ebak Belen.

Setelah kami melewati Ebak Uweken, kondisi jalur pendakian tampak berubah. Kali ini, jalannya berbatu dan cukup menanjak. Kami harus berhati-hati, sebab batu-batunya sering terguling ke bawah.

Aroma belerang kian menyengat di penciuman. Kami kemudian menutup pernapasan kami dengan kain tenun agar terhindar dari gangguan pernapasan.

Setelah satu jam lebih perjalanan dari Ebak Belen, sampailah kami di puncak gunung Ile Ape. Seketika semua rasa lelah terbayarkan dengan landscape panorama yang super duper indahnya bro.

Dari sebelah timur, sinar sang surya perlahan merayapi kawah gunung Ile Ape serta bukit-bukit yang berada di sekelilingnya. Kilauan pasir putih yang terbentang di dalam kawah benar-benar elok dipandang. Selain itu, pesona laut biru dan gugusan pulau-pulau di bawah sana sangat-sangat menambah keindahan bingkai alam gunung Ile Ape.

Video Pendakian gunung Ile Ape:

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: