Catatan Flaspacker

kedai kopi di bukit menoreh
Share this:

“Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Kutipan yang diungkapkan penyair Joko Pinurbo itu agaknya tepat untuk mengakhiri hari yang panjang dengan secangkir kopi di sore hari. Namun sesekali, kita membutuhkan cara lain untuk merayakan rezeki hari ini. Menikmati secangkir kopi lokal, misalnya.

Perjalanan panjang melewati jalanan yang dalam proses perbaikan terbayar tuntas ketika sampai di Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo. Memasuki jalan setapak kecil yang menurun dari jalan besar, kita akan menemukan bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu.

Di tengah-tengahnya terdapat taman kecil dengan beraneka ragam tanaman. Bangunan tersebut menghadap ke arah bukit yang hijau. Jika ke sini pada siang hari, kita dapat mengunjungi kebun kopi lokal yang ada di dekat kedai.

Ketika sedang asyik memilih menu, tiba-tiba Pak Rohmat, sang pemilik, muncul. Ia tersenyum dan menyapa dengan ramah. Tak lupa ia menanyakan nama dan asal kami. “Dari Jogja, Pak,” jawab saya.

Pesanan kami pun tersaji di atas nampan kayu. Kali ini kami memilih kopi ijo dan kopi susu. Kopi ijo berwarna bening kecoklatan dan beraroma seperti dedaunan. Sementara itu, kopi susu menguarkan aroma kopi dan susu segar.

Selain minuman, kedai kopi lokal ini juga menyediakan beraneka macam makanan. Salah satunya geblek, camilan khas Kulonprogo. Tidak seperti umumnya, di sini geblek dibentuk lingkaran-lingkaran kecil seperti kerupuk kaleng. Makanan yang terbuat dari tepung tapioka itu disajikan bersama dengan gula jawa cair.

Pak Rohmat dengan sigap menjelaskan berbagai macam menu yang ada.

“Kalau kopi ijo, untuk kesehatan. Dibuat dari biji kopi muda,” kata Pak Rohmat. “Bisa ditambahkan gula pasir atau gula aren. Monggo, monggo diicipi.”

Baca juga: 5 Wisata Kuliner Jogja yang Hits dan Legendaris

Kopi ijo yang diunggulkan sebagai minuman berkhasiat terasa seperti jamu. Agak pahit, namun segar. Tambahan sebongkah gula aren membuatnya semakin dapat dinikmati. Namun bagi yang tak menyukai rasa jamu, disarankan memilih minuman lain.

Sementara itu, kopi susu di sini menggunakan susu sapi segar. Gurihnya terasa mendominasi pahit kopi. Kombinasi yang sedap bagi pecinta kopi susu.

Berbagai macam menu yang disajikan di Kedai Kopi Menoreh rupanya menggunakan bahan baku kopi lokal. Biji-biji kopi yang disajikan menjadi minuman, misalnya, dipetik dari kebun sendiri. Pengolahannya pun dilakukan secara mandiri.

“Awalnya memang dari jualan biji kopi kemasan saja. Lama-kelamaan, ternyata banyak juga peminatnya. Akhirnya dibukalah tempat ini,” ujar Pak Rohmat ketika menjelaskan asal-usul kedai yang telah berdiri sejak tiga tahun lalu itu. Rupanya Pak Rohmat memang sudah lama bergerak di bidang pengolahan kopi.

Dibandingkan kafe-kafe yang tumbuh menjamur di kota Yogyakarta, Kedai Kopi Menoreh menawarkan harga yang relatif murah karena bahan bakunya bersumber dari kebun sendiri. Secangkir kopi dihargai sepuluh sampai lima belas ribu rupiah. Begitu pula camilannya.

Interaksi

Kedai Kopi Menoreh menawarkan sesuatu yang sesuatu yang tidak akan kita dapatkan di gerai-gerai kopi modern. Konsep keramahan masyarakat Jawa tertuang dalam setiap interaksi yang tercipta.

Bukan sekadar menjual barang dagangan, namun seperti menerima seseorang ke dalam rumah. Sapaan langsung dari sang pemilik membuat para pengunjung merasa nyaman dan diterima, seperti bertandang ke rumah kawan lama.

Keramahan itu rupanya menjadi kesan yang paling membekas bagi para pengunjung. Hal tersebut banyak disampaikan dalam kolom kesan-pesan di buku tamu yang disodorkan Pak Rohmat, termasuk para pengunjung mancanegara.

Kopi selalu menjadi sarana melarikan diri dari hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari. Melalui secangkir kopi lokal, sayup lagu campursari, dan obrolan dengan seorang kawan di salah satu sudut Kulonprogo, satu sore menjadi lebih bermakna….

2 thoughts on “Merayakan Sore dengan Kopi Lokal di Bukit Menoreh

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: