Catatan Flaspacker

Basecamp Ranu Pani
Share this:

Setelah melakukan persiapan yang matang, saya bersama Ola, lelaki yang juga menyukai travelling, bertolak ke arah timur kota Malang. Kali ini, kami akan menyusuri jalur pendakian Ranu Kumbolo, gunung Semeru.

Sepanjang perjalanan, kami terus melaju menerobos jalan berliku hingga sampailah kami di gapura yang bertuliskan “Selamat datang di Coban Trisula Kabupaten Malang”.

Gapura tersebut merupakan gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setalah melewati gapura tersebut, trek kian menanjak naik. Beberapa sisi di samping badan jalan terdapat jurang yang amat curam.

Riuh angin kerap kali secara tiba-tiba berhembus kencang menerpa kami. Sungguh, ini cukup membuat jantung sedikit berdegup. Tak lama kemudian, rasa was-was itu seketika lenyap saat mata ini memandangi panorama nan indah di sekeliling.

Kami pum berhenti sejenak untuk menimakti megahnya perbukitan yang mengelilingi gunung Bromo. Lautan pasir terbentang luas di kaki-kaki perbukitan itu.

Dari kejahuan terlihat rombongan mobil Jeep melaju kencang membela luatan pasir tersebut. Ada juga beberapa orang yang tengah asik menunggangi kuda di sisi sebelah timur. Benar-benar sebuah bingkai bentang alam yang memesona.

Sesudah puas memandang keindahan yang sama sekali tak terduga itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Perkiraan waktu kurang lebih dua puluh menit lagi kami akan memasuki kawasan desa Ranu Pani.

Basecamp Ranu Pani

Matahari mulai mencapai titik tertinggi. Kondisi lintasan jalan yang kami lalui pun sudah berbeda dengan yang sebelumnya. Jika tadi jalannya terus menanjak, kini jalannya mulai menurun.

Di sisi badan jalan, rerumpunan edelweys terus melambai, seolah sedang memberi sambutan selamat datang kepada kami.

Tepat pukul 12.00, kami pun tiba di desa Ranu Pani, sebuah desa yang berada di ketinggian 2.200 mdpl. Di desa inilah terdapat sebuah basecamp untuk pendakian gunung Semeru. Jarak dari kota Malang ke desa ini sekitar 48 km.

Saya dan Ola kemudian berjalan menuju ke loket pusat layanan untuk konfirmasi registrasi yang telah kami lakukan via daring. Namun sayang sekali, di depan loket tersebut ada sebuah selembar kertas yang bertuliskan jam istirahat.

Akhirnya, kami harus menunggu lagi selama satu jam, sebab pelayanan akan dibuka lagi pukul satu siang. Sembari menunggu, kami bertegur sapa dengan pendaki lain yang tengah berkumpul di sebuah pendopo depan loket pusat.

Di situ, kami saling bertukar kisah pengalaman dan informasi tentang pendakian. Ternyata banyak juga pendaki yang berasal dari luar Jawa Timur. Ada yang dari Bogor, ada juga yang dari Jogja, dan yang paling banyak dari Jakarta.

Kata mereka, mendaki adalah opsi terbaik untuk melepas segala kepenatan dan hiruk pikuk di kota. Ada juga yang bilang mendaki itu candu. Heuheu.. Sudah kaya rokok aja ya.

Sejam berlalu. Loket pusat layanan kembali dibuka. Para pendaki beramai-ramai mengantri untuk melakukan registrasi ulang.

Sistem registrasinya cukup memakan waktu, tidak seperti basecamp-basecamp pada umumnya. Di sini, kita harus melalui tiga tahap. Tahap pertama registrasi ulang, yakni menunjukan KTP, surat kesehatan, dan hardcopy formulir pendaftaran yang telah dilakuan sebelumnya via online.

Setelah itu, kami diarahkan ke sebuah ruangan untuk mengikuti briefing. Dari situ, kami harus kembali lagi ke loket pusat layanan untuk mengambil tiket masuk.

Bagi beberapa pendaki, sebenarnya prosedur seperti ini sangat baik dan penting. Namun, di sisi lain, menjadi tidak efektif karena jumlah pegawainya begitu terbatas.

Para pendaki pun terpaksa mengorbankan waktunya untuk mengantri panjang demi menyelesaikan registrasinya dan mengambil tiket masuk. Bayangkan saja, dari pukul satu siang kami mengantri, selesainya sekitar pukul tiga sore — sangat-sangat memakan banyak waktu.

Menyusuri Jalur Pendakian

Menurut penjelasan sewaktu briefing, umumnya estimasi waktu dari basecamp menuju Ranu Kumbolo sekitar empat sampai lima jam. Kami memulai pendakian pukul 15.15 sore. Tentunya kami akan tiba di sana ketika hari telah gelap. Akan tetapi, saya dan Ola bertekat mencapai Ranu Kumbolo sebelum matahari terbenam.

Sambil terus melangkahkan kaki, kami berdua mulai menyusun rencana dan mengatur waktu. Kami sepakat untuk istirahat sekali saja di salah satu pos. Ini memang tidak mudah, namun tekat yang kuat membuat kami tetap semangat untuk terus menjejakkan tapak langkah kami di lintasan jalur pendakian.

Selepas dari gerbang jalur pendakian Ranu Kumbolo, kami menyusuri jalan yang masih dilapisi semen. Di sampingnya terdapat perkebunan warga yang cukup luas. Beberapa petani terlihat tengah sibuk menyirami tanamannya.

Mentari masih memancarkan sinarnya dari arah barat. Jelang beberapa menit, kami memasuki jalur pendakian yang sesungguhnya.

Hutan yang rimbun, cuitan burung serta nyanyian serangga mengantar kami menuju pos satu. Di pos ini, ada beberapa pendaki sedang beristirahat menyantap hidangan yang disajikan pemilik warung.

Melihat pemandangan ini, rasanya langkah kaki ingin berhenti, namun waktu yang kian berputar memaksa kami untuk terus berjalan. Kami melewati pos satu tanpa beristirahat.

Jalan masih terasa santai, tidak begitu menanjak. Kami pun mempercepat langkah. Sekitar lima belas menit, kami tiba di pos dua. Di pos ini juga terdapat warung.

Saya dan Ola memutuskan untuk beristirahat sejenak. Di sini, kami menyantap beberapa gorengan, mengisap sebatang rokok, dan ditutup dengan memakan buah semangka yang sungguh menyegarkan.

Tak butuh waktu lama, kami kembali masuk ke jalur pendakian. Jalan menuju pos tiga tampak agak menurun. Pepohonan di sekitar pun semakin rimbun hingga sinar surya tak lagi nampak. Hawa dingin mulai terasa.

Entah kenapa, di sini saya merasakan ada seusatu yang aneh. Suasana yang tadinya riuh dengan kicauan burung, tiba-tiba berubah menjadi kehingan yang mencekam. Pikiran saya mulai kemana-kemana.

Tak lama kemudian, di depan kami terlihat sebuah jembatan berwarna merah. Saya langsung teringat cerita yang beredar tentang jembatan ini.

Dalam hati saya, ternyata begini ya rasanya melintasi jembatan merah ini. Sebenarnya ada satu hal yang terjadi di sini, tapi saya akan cerita di tulisan berikutnya.

Tepat pukul 16.15, kami tiba di pos tiga. Di pos ini juga masih terdapat warung. Perasaan pun terasa legah setelah bertemu pendaki lainnya. Melihat hari kian sore, kami berusaha mempercepat langkah.

Sesudah berjalan selama satu jam, akhirnya mata ini melihat sebuah danau yang amat teduh, yang dikelilingi bukit savana nan indah. Yah, itulah danau Ranu Kumbolo.

Tidak sia-sia, kami berhasil sampai di tujuan sebelum mentari terbenam. Kami lalu mengeluarkan tenda dari dalam carier dan mendirikannya.

Suasana Malam di Ranu Kumbolo

Hari telah gelap. Bintang bertaburan di langit malam. Beberapa pendaki terlihat tengah menyerap kehangatan dari api unggun di depan warung.

Sedang Ola sibuk mengutak-ngatik kameranya untuk mengambil foto Milky Way. Saya sendiri asik menyeruput secangkir kopi hangat sambil menikmati suasana malam yang syahdu.

Suhu di Ranu Kumbolo mencapai 3 derajat celsius. Saking dinginnya, perut ini mulai keroncongan.

Saya dan Ola kemudian masuk ke dalam tenda dan menyiapkan makan malam. Mie rebus ditambah sosis goreng menjadi menu andalan kami malam itu.

Entalah, apa kalian juga merasakan kalau yang istimewah di gunung itu adalah ketika makan. Makanan apa saja yang kita makan di gunung, pasti nikmatnya berkali-kali lipat. Iya nggak?

Sesudah makan, saya dan Ola pun bergabung bersama pendaki lainnya yang berada di sisi perapian. Kami menghabiskan malam itu dengan bercerita dan bercanda gurau. Sungguh sebuah suasana kekeluargaan yang sangat berarti bagi saya.

Takjub Melihat Golden Sunrise

Tepat pukul 05.00, saya dan Ola dibangunkan oleh musik alarm yang telah saya setel sebelum tidur. Karena sudah tak sabar untuk menyaksikan golden sunrise di timur langit Ranu Kumbolo, saya pun bangkit membuka pintu tenda.

Seketika udara dingin menyerbu masuk ke dalam tenda. Saya lalu cepat-cepat kembali menutupnya. Hehe… Sumpah dingin banget rasanya.

Di luar, langit masih gelap. Namun, terlihat beberapa pendaki sudah stay di pesisir danau. Entah, mungkin jaket mereka terbuat dari bulu beruang sehingga tidak merasakan dingin yang luar binangsut. Heuheu…

Ola berusaha keras mengurangi rasa dingin itu. Ia mengambil kompor dan kemudian merebus air untuk membuat secangkir kopi.

Sambil menikmati kehangatan kopi, saya sesekali membuka pintu tenda sekadar mengecek kedatangan sang mentari pagi. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu sedari tadi tiba.

Dari arah timur, sang surya sedikit demi sedikit menunjukan pesonanya. Pancaran cahaya emasnya perlahan-lahan merambat ke setiap sudut kawasan Ranu Kumbolo.

Di atas permukaan danau, terlukis sekumpulan kabut tipis yang bergerak mengikuti alunan angin.

Gila, ini sungguh-sunguh sebuah pemandangan alam yang mengagumkan. Saking kagumnya, mata ini seakan tak ingin berkedip sekali pun.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: