Catatan Flaspacker

budaya
Share this:

catatanflashpacker.com – Yogyakarta sebagai sentra kota budaya niscaya menyimpan banyak warisan situs bersejarah yang memiliki nilai luhur. Sesungguhnya, jika berbicara mengenai kota budaya di daerah istimewa ini tak pernah ada usainya, karena sering kali mendapat sorotan di kancah domestik hingga mancanegara. Salah satunya kawasan Kotagede, yang dahulu dikenal menjadi wilayah Ibu Kota Kesulatanan Mataram Islam.

Achmad Charis Zubair, budayawan sekaligus penggerak masyarakat Kotagede, sebagaimana dilansir Kumparan Tugu Jogja, menyatakan Kotagede memiliki potensi sosial-budaya yang menghidupkan masyarakat secara kultural. Hal ini disebabkan oleh nilai-nilai budaya yang terkandung melalui perstiwa-peristiwa lampau pada zaman tersebut.

“Kotagede ini membangun kesadaran sejarah atas potensi budaya dan wajib kita lestarikan agar lebih luas dalam mencintai kebudayaan bangsa dan nasional.” Tutur Achmad Charis, saat sambutan pembukaan Festival Budaya Kotagede di Rumah Kalang Kotagede, Yogyakarta, Jumat (22/11/2019) silam.

Baca juga: 5 Wisata Kuliner Jogja yang Hits dan Legendaris

Beragam peninggalan situs bersejarah masih dapat ditemukan di Kotagede seperti makam raja-raja Mataram, Masjid Gedhe Mataram, dan rumah-rumah berelief Jawa Mataram. Selain itu, ada situs bersejarah menarik lain yang terletak di Kampung Dalem, yaitu prasasti berupa batu yang kerap disebut Watu Gilang. Prasasti tersebut dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

“Tempat ini masih sering digunakan untuk berdoa,” kata Wartono, Juru Kunci prasasti tersebut ketika ditemui Minggu (01/12/2019).

Keberadaan prasasti Watu Gilang disimpan di dalam sebuah bangunan sederhana di tengah pemukiman penduduk dengan pelataran pohon-pohon beringin besar. Sepintas tak ada yang tampak istimewa dari bangunan berukuran 3 x 3 meter itu.

Wartono menceritakan Watu Gilang dahulu digunakan sebagai tempat duduk atau singgasana Raja Mataram Islam pertama pada era Panembahan Senopati. Watu Gilang terbuat dari material andesit yang memiliki bentuk persegi empat berukuran 2 x 2 meter dengan tinggi kurang lebih 30 sentimeter.

Di atas batu itu, terpahat ukiran tulisan-tulisan melingkar berbabasa asing. Tulisan-tulisan itu antara lain, Ita Movetur Mundus (Latin), Ainsi Va Le Monde (Perancis), Zoo Gat De Wereld (Belanda), dan Cosi Van IL Mondu (Italia) – yang berarti “demikianlah perubahan dunia”. 

Pada bagian tengah dari keempat tulisan melingkar itu terdapat tulisan Latin berbunyi, Ad Aeternam Memoriam Sortis Infelicis yang mengandung arti “untuk memperingati nasib yang kurang baik”.

“Dulu yang nulis orang-orang dari benua Eropa.” Tutur pria paruh baya itu.

Ia melanjutkan, tulisan asing pada bagian tengah yang berarti “untuk memperingati nasib yang kurang baik”, barangkali menjadi pertanda bahwa zaman dahulu pernah terjadi peristiwa duka di Watu Gilang.

Baca juga: Merayakan Sore dengan Kopi Lokal di Bukit Menoreh

Jika menilik bagian tepi pada batu tersebut terdapat cekungan berukuran kepala orang dewasa. Konon, cekungan itu merupakan bekas benturan dari kening Ki Ageng Mangir Wonoboyo akibat hempasan yang dilakukan oleh sang ayah, Panembahan Senopati.

Singkat cerita, sebelum peristiwa duka berlangsung, Roro Pembayun meminta Ki Ageng Mangir menghadap Panembahan Senopati untuk memohon restu atas pernikahan mereka. Kala itu, Ki Ageng Mangir menolak karena dirinya telah dicap sebagai musuh dan pemberontak oleh Panembahan Senopati. Namun, mengingat sang raja ialah mertuanya, lambat laun Ki Ageng Mangir memenuhi permintaan sang istri demi bukti cinta dan keberanian seorang kesatria untuk menghadap Raja Kerajaan Mataram.

Baca juga: Penulis Kesenian Raih Penghargaan Lifetime Achievement Award Tahun 2019

Sesampainya di sana, para pengawal melarang Ki Ageng Mangir membawa senjata masuk ke dalam keraton. Tiba di singgasana Raja, apalah daya nasib kemudian berkata lain. Panembahan Senopati langsung membenturkan kening Ki Ageng Mangir ketika menghaturkan sembah hingga tewas.

“Benturan itu mengakibatkan kepala Ki Ageng Mangir pecah dan sang istri kecewa karena suaminya terbunuh di dalam keraton,” kisah Wartono.

Di samping itu, pemakaman Ki Ageng Mangir terbilang cukup unik karena posisi makam separuh berada di dalam makam keluarga raja, dan separuhnya lagi berada di luar tembok makam keluarga raja. Hal ini disebabkan, Ki Ageng Mangir merupakan seorang menantu raja sekaligus musuh dari Panembahan Senopati.

Selain keberadaan Watu Gilang, di sini juga terdapat tiga batu (Watu Gateng) dan gentong batu. Wartono berujar Watu Gateng adalah batu-batu yang sering dimainkan oleh Raden Rangga, Putra Panembahan Senopati. Sementara gentong batu diyakini sebagai tempat menyimpan dan mengambil air untuk wudu oleh Ki Juru Mertani.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: