Dampak Rokok Elektrik dan Tipe Baru Gangguan Paru
Share this:

Beberapa pekan terakhir masalah kesehatan akibat penggunaan rokok elektrik atau vape makin marak di dunia global. Penyebab gangguan kesehatan tersebut disinyalir karena kandungan muatan senyawa kimia yang ada di dalam rokok elektrik. Bahkan, World Health Organization (WHO) telah menyatakan sikap e-rokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia.

Organisasi kesehatan dunia itu juga menghimbau supaya dilakukan studi jangka panjang secara signifikan mengenai dampak pemakaian nikotin melalui rokok elektrik – konon sebagai produk sehat yang bisa melepaskan ketergantungan terhadap rokok konvensional.

Berdasarkan temuan Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengonfirmasi sebanyak 2.290 kasus cedera paru-paru terkait penggunaan rokok elektrik dengan 47 kematian di sejumlah wilayah Amerika Serikat. Dalam laporannya, sebagaimana dilansir laman Healthline, CDC mengatakan cedera paru-paru akibat vape yang disebut e-cigarette or vaping product use associated lung injury (EVALI) memiliki penyebab potensial, yaitu vitamin E asetat.

Wakil Direktur CDC, Dr. Anne Schuchat menjelaskan vitamin E asetat lazimnya digunakan sebagai suplemen dalam perawatan kulit. Jika vitamin E asetat dihirup niscaya dapat mengganggu fungsi paru-paru secara normal.

Menurut Schuchat, para pasien yang mengidap EVALI juga akan terkena dampak penyakit radang paru-paru (pneumonia); batuk, sesak napas, serta nyeri dada. Untuk penyakit lain akan terkena berbagai gejala seperti mual, muntah, diare, dan penurunan berat badan.

“Para peneliti masih terus menguji rokok elektrik guna mencari senyawa kimia yang berpotensi berbahaya,” katanya.

Tipe Baru Gangguan Paru Akibat Rokok Elektrik

Dalam sebuah riset yang diterbitkan (20/11/2019) melalui Canadian Medical Association Journal (CMAJ) melaporkan pemuda Kanada berusia 17 tahun terkena penyakit langka bernama “paru-paru popcorn” (popcorn lung). Ia mengaku telah menggunakan e-rokok sekitar lima bulan terakhir.

Ia juga kerap menambahkan tetrahydrocannabinol (THC) pada liquid dalam jumlah besar. Akibatnya, pemuda tersebut harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami sesak napas, batuk kronis, dan penyakit pernapasan lainnya.

Berdasarkan pengamatan tim medis, kondisi pemuda ini kian memburuk yang mengharuskan untuk menambah alat bantu pernapasan (intubasi) karena sesaat paru-parunya tidak kembali berfungsi secara normal.

“Sang pemuda harus memakai mesin yang dapat mengoksigenasi darahnya. Dia akhirnya memakai steroid tinggi dan membaik.” Ujar peneliti tersebut dalam jurnal berjudul “Life-threating Bronchiolitis Related to Electronic Cigarette Use in a Canadian Youth”.

Baca juga: Manfaat Teh bagi Kesehatan Tubuh

Lebih lanjut, peniliti menerangkan penyakit “paru-paru popcorn” atau dikenal dalam istilah medis bronchiolitis obliterans merupakan kondisi saat saluran udara terkecil dalam paru (bronkiolus) meradang dan mengalami penyempitan karena adanya luka. Perlu diketahui, popcorn lung sejatinya biasa diidap oleh para pekerja pabrik yang terpapar kandungan perasa makanan (diacetyl kimia).

“Hal itu juga menjadi komponen potensial dalam e-rokok,” katanya.

Sehubungan dengan masalah kesehatan dari penggunaan rokok elektrik, pola penyakit paru popcorn lung dan EVALI memiliki indikasi gangguan kesehatan yang berbeda. Popcorn lung mengarah pada bronkiolus, sedangkan penyakit EVALI lebih mengarah pada kerusakan alveolus.

“Perlu penelitian lanjutan ke semua komponen yang berpotensi beracun pada e-rokok dan regulasinya harus semakin diperketat.” Harap peniliti dalam jurnalnya.

2 thoughts on “Dampak Rokok Elektrik dan Tipe Baru Gangguan Paru

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: